Bukan karena rutenya terlalu ekstrem, tapi karena satu hal: gear dipilih asal-asalan. Baru beberapa jam jalan, punggung mulai nyut-nyutan, kaki lecet, tenda bocor kena hujan malam pertama.
Kabar baiknya, di 2025 ini pilihan perlengkapan backpacking makin ringan, makin pintar, dan makin banyak opsi yang ramah kantong. Industri outdoor global sendiri diperkirakan bernilai sekitar 61,7 miliar USD pada 2025 dan terus tumbuh karena makin banyak orang jatuh cinta dengan aktivitas luar ruang seperti hiking, camping, dan backpacking.
Artikel ini akan membantu memilih backpacking gear essentials yang benar-benar penting, plus review singkat peralatan terbaik 2025. Mulai dari tas, tenda, sleeping bag, sepatu, kompor, sampai filter air—dengan contoh brand global dan lokal yang mudah ditemukan di Indonesia. Yuk bahas satu per satu dengan bahasa santai tapi tetap detail.
Kenapa Memilih Gear Backpacking yang Tepat Itu Penting?
Laporan Outdoor Participation Trends 2024 menunjukkan bahwa sekitar 175,8 juta orang (57,3% populasi AS usia 6+ tahun) berpartisipasi dalam aktivitas outdoor pada 2023, dengan hiking dan camping sebagai aktivitas paling populer. Di Australia, partisipasi bushwalking (setara hiking/backpacking) bahkan naik hingga 68% dalam satu tahun.
Artinya, semakin banyak orang ke alam, tapi:
-
Medan tetap sama beratnya.
-
Cuaca tetap tidak bisa ditebak.
-
Risiko tetap ada; dari hipotermia sampai tersesat.
Di Indonesia, berbagai panduan pendakian menekankan bahwa banyak insiden di gunung terjadi karena perlengkapan yang kurang atau salah pilih, bukan semata-mata karena gunungnya terlalu sulit. Checklist resmi dan komunitas pendaki selalu memuat item wajib seperti:
-
Tas carrier 40–60 L
-
Tenda, sleeping bag, dan matras
-
Sepatu hiking dengan grip bagus
-
Jas hujan, pakaian layering
-
Kompor dan peralatan masak
-
Headlamp, P3K, navigasi, dan kantong sampah
Jadi, gear bukan soal gaya, tapi soal kenyamanan, keselamatan, dan efisiensi. Dengan setup yang tepat, perjalanan 3 hari di gunung bisa terasa “enak” alih-alih “disiksa”.
Yuk kenali dulu pilar utamanya.
Konsep “Big Three”: Pondasi Utama Backpacking Gear
Dalam dunia backpacking, ada istilah “Big Three”:
-
Backpack / carrier
-
Shelter (tenda/tarp)
-
Sleep system (sleeping bag + matras)
Tiga item ini menyumbang sebagian besar berat di punggung dan sangat menentukan kualitas tidur serta kenyamanan. Banyak panduan gear internasional dan checklist dari REI, Operation Adventure, The Big Outside, dan lainnya memulai dari Big Three sebelum membahas item kecil lain.
Backpack / Carrier: Jantung Sistem Bawaan
Backpack yang tepat akan:
-
Mendistribusikan beban ke pinggang, bukan hanya ke bahu
-
Cukup kapasitas untuk durasi trip
-
Sesuai panjang torso dan bentuk tubuh
Panduan brand outdoor lokal seperti Eiger dan Arei menekankan pentingnya memilih ukuran carrier sesuai durasi pendakian dan karakter gunung, semakin lama dan semakin dingin, semakin besar kapasitas yang dibutuhkan.
Beberapa rekomendasi backpacking backpack terbaik 2025 (global):
-
Gregory Paragon 58 / Maven 58 – Dinilai sebagai backpacking backpack overall terbaik oleh beberapa review karena seimbang antara kenyamanan, kapasitas, dan fitur.
-
REI Flash 55 – Pilihan budget yang ringan dan tetap nyaman untuk beban hingga sekitar 30–35 pon.
-
Osprey Atmos AG 65 / Aura AG 65 – Terkenal dengan sistem suspensi “Anti-Gravity” yang sangat nyaman untuk beban lebih berat.
-
Osprey Exos/Eja 58 – Lebih ringan, cocok untuk yang mulai tertarik gaya ultralight.
Contoh Brand Carrier Lokal yang Layak Dilirik
Dari berbagai ulasan dan artikel e-commerce Indonesia, beberapa merek carrier yang sering direkomendasikan antara lain:
-
Eiger (misalnya seri Phalanger, Ecosavior)
-
Arei (Cartenz, Toba, dll.)
-
Avtech Carrier Galoa
-
Naturehike (berbagai seri hiking pack)
-
Brand lokal lain seperti Antarestar, Zarventure, Hikemore yang sering direkomendasikan untuk pendaki pemula dengan budget terbatas.
Kunci utamanya:
Coba langsung di toko, sesuaikan dengan panjang punggung, pastikan ada hip belt yang empuk, dan cek distribusi beban saat diisi.
Tenda (Shelter): Rumah Kedua di Alam
Tenda adalah “rumah kedua” yang melindungi dari hujan, angin, dan dingin. Review gear 2025 dari berbagai situs seperti Wildland Trekking, CleverHiker, REI, dan OutdoorGearLab konsisten menempatkan beberapa model berikut di posisi puncak:
-
Big Agnes Copper Spur UL2 – Sering disebut sebagai tenda backpacking terbaik overall: ringan, lapang, dua pintu, dua vestibule.
-
SlingFin Portal 2 – Unggul untuk kondisi cuaca keras, sangat stabil.
-
NEMO Dagger OSMO / Hornet OSMO – Kombinasi berat ringan, ruang cukup, dan bahan yang tahan cuaca.
-
Durston X-Mid 2 / X-Mid Pro – Populer di kalangan ultralight, bobot sangat ringan dengan ruang yang tetap lega.
Untuk pasar Indonesia, banyak pendaki pemula memakai Naturehike, Eiger, Arei, dan tenda lokal lain yang lebih terjangkau namun cukup kuat untuk gunung-gunung tropis jika dipasang dan dirawat dengan benar.
Poin penting saat memilih tenda:
-
Bobot total (idealnya < 2,5–3 kg untuk dua orang)
-
Daya tahan terhadap hujan dan angin
-
Ventilasi (mengurangi kondensasi)
-
Ukuran saat dipacking (muat di dalam/di luar carrier)
Sleep System: Sleeping Bag & Matras
Tidur nyenyak di gunung = tenaga penuh untuk esok hari. Sleep system terdiri dari:
-
Sleeping bag atau quilt
-
Sleeping pad/matras (foam atau inflatable)
Beberapa sleeping bag dan quilt terbaik 2025 menurut review Switchback Travel, CleverHiker, Wildland Trekking, dan The Trek:
-
Feathered Friends Swallow UL 20 / Hummingbird/Egret 20 – Warmth-to-weight luar biasa, cocok untuk pendakian dingin.
-
REI Magma 15 – Sering disebut sebagai value terbaik: hangat, ringan, harga relatif lebih rendah dibanding kompetitor premium.
-
Western Mountaineering UltraLite 20 – Kualitas tinggi untuk pendaki yang ingin investasi jangka panjang.
-
Kelty Cosmic Down 20 – Favorit untuk pemula karena harga ramah namun sudah menggunakan down.
-
NEMO Disco 15 – Sangat nyaman untuk side-sleeper, bentuk “spoon” dengan ruang ekstra di lutut.
-
Enlightened Equipment Enigma / Revelation Quilt 20 – Quilt ultralight yang populer di kalangan thru-hiker.
Untuk matras, banyak review menempatkan Therm-a-Rest NeoAir XLite NXT dan berbagai pad ultralight lain sebagai pilihan utama karena bobot ringan dan R-value yang cukup hangat.
Bagi pendaki Indonesia yang sering mendaki gunung 2.000–3.000 mdpl, kombinasi sleeping bag comfort sekitar 5–10 °C plus matras busa atau inflatable sudah cukup, asal dilapis dengan pakaian hangat.
Footwear & Pakaian: Nyaman di Kaki, Aman di Cuaca
Sepatu / Boots Hiking Terbaik 2025
Sepatu salah = kaki lecet, keseleo, atau bahkan pulang lebih cepat. Daftar rekomendasi sepatu hiking dan boots terbaik 2025 banyak memuji model berikut:
-
Salomon X Ultra 5 Mid GTX – Sering jadi “best overall waterproof hiking boot”; seimbang antara bobot, grip, dan stabilitas.
-
Hoka Speedgoat 6 – Trail running shoes yang jadi favorit untuk backpacking ringan.
-
Hoka Anacapa 2 Mid GTX – Nyaman dan empuk, cocok untuk pendaki yang ingin cushioning maksimal.
-
Merrell Moab 3 (Mid/WP) – Dikenal sebagai best budget hiking boot yang tangguh dan awet.
-
La Sportiva Spire GTX / TX4 Evo – Kuat dan presisi di medan teknis berbatu.
Artikel dan panduan Indonesia juga selalu menempatkan sepatu hiking/boots sebagai perlengkapan wajib, menekankan grip kuat, bahan tahan air, dan ankle support untuk medan licin dan berbatu.
Tips utama:
-
Jangan pertama kali pakai sepatu baru langsung untuk pendakian panjang; biasakan dulu.
-
Pastikan ukuran sedikit lebih longgar (ada ruang untuk kaus kaki tebal).
Sistem Layering Pakaian
Sebagian besar panduan pendakian internasional dan lokal sepakat dengan konsep layering:
-
Base layer: menyerap keringat (hindari katun berat)
-
Mid layer: penghangat (fleece, jaket bulu angsa/sintetis)
-
Outer layer: jaket tahan air/tahan angin (rain jacket/ponco)
Untuk gunung Indonesia, biasanya cukup:
-
1–2 kaus quick-dry
-
1 celana panjang trekking ringan
-
1 jaket hangat
-
1 raincoat/ponco
-
Buff/kupluk + sarung tangan tipis
Dapur & Hidrasi: Kompor, Cooking Set, dan Filter Air
Kompor Backpacking Terbaik 2025
Kompor kecil bisa jadi “jantung” camp: buat air panas, masak mie, kopi, atau makanan freeze-dried. Review GearJunkie, Treeline Review, CleverHiker, dan OutdoorGearLab banyak mengunggulkan:
-
SOTO WindMaster – Sering disebut best overall backpacking stove: ringan, efisien, kuat di angin.
-
MSR PocketRocket Deluxe – Kompor canister favorit yang cepat mendidihkan air dan mudah diatur.
-
BRS 3000T – Super ringan dan sangat murah; populer di kalangan ultralight (tapi butuh windscreen dan hati-hati pemakaian).
-
Jetboil Flash / MiniMo – Sistem terintegrasi (kompor + pot) yang cepat dan praktis untuk air panas.
-
MSR WindBurner Duo – Unggul untuk kelompok kecil di kondisi berangin.
Untuk pemula di Indonesia, banyak yang memakai “kompor bunga” plus nesting karena murah dan mudah dicari, meski bobotnya agak berat.
Sistem Filter & Penyimpanan Air
Air minum aman sangat penting, apalagi di trek dengan sumber air yang meragukan. Banyak pakar gear sepakat bahwa squeeze filter ultralight adalah standar emas untuk backpacking modern.
Beberapa sistem filter terbaik 2025:
-
Sawyer Squeeze + Cnoc Vecto – Sering dianggap kombinasi paling andal untuk thru-hiking; tahan hingga jutaan liter dengan backflush rutin.
-
Platypus QuickDraw – Filter ringan dengan laju alir cepat, favorit di banyak review.
-
Katadyn BeFree – Sangat praktis untuk trip pendek, aliran air sangat kencang.
-
MSR Guardian – Purifier kelas premium yang juga menyaring virus, cocok untuk perjalanan internasional ke daerah dengan kualitas air buruk.
-
Grayl UltraPress – Botol filter/purifier tekan, populer untuk traveling dan dayhike.
Untuk pendakian di Indonesia, banyak pendaki masih mengandalkan air matang dari basecamp, air botolan, atau tablet kimia, tapi penggunaan filter portable mulai meningkat terutama di jalur yang panjang dan sepi warung.
Safety, Navigasi, dan Elektronik Penting
Banyak checklist backpacking modern memasukkan kategori “small essentials”: hal-hal kecil yang sering dilupakan namun sangat krusial.
Headlamp, P3K, dan Emergency Kit
Minimal bawalah:
-
Headlamp + baterai cadangan
-
P3K pribadi (plester, obat anti-diare, pereda nyeri, perban)
-
Pisau lipat kecil
-
Peluit, emergency blanket, korek api/lighter
-
Trash bag/kantong sampah
Checklist resmi pendakian di Indonesia bahkan menempatkan headlamp, jas hujan, dan emergency blanket sebagai wajib, bukan bonus.
Navigasi, HP, dan Power Bank
Di 2025, banyak backpacker mengandalkan:
-
Aplikasi peta offline (misalnya via ponsel)
-
GPS handheld atau perangkat satelit (misalnya Garmin inReach) di trek terpencil
Namun, peta kertas + kompas tetap ideal sebagai cadangan, terutama di daerah dengan sinyal buruk dan risiko baterai habis.
Elektronik dasar yang disarankan:
-
HP + offline maps
-
Power bank 10.000–20.000 mAh
-
Kabel dan charger
-
Kadang jam outdoor atau sports watch untuk monitoring (opsional).
Checklist Backpacking Gear Esensial (Versi Ringkas)
Untuk memudahkan, berikut checklist inti (bisa disesuaikan durasi dan medan):
-
Carrier / backpack 40–60 L
-
Daypack kecil (opsional)
-
Tenda 2 layer + pasak + footprint (jika ada)
-
Sleeping bag (comfort sesuai suhu gunung)
-
Matras (foam atau inflatable)
-
Sepatu hiking / trail shoes + sandal cadangan
-
Pakaian: base layer, mid layer, jaket, raincoat, celana trekking, kaus kaki cadangan
-
Kompor + gas + nesting / peralatan masak
-
Makanan & snack cukup untuk seluruh trip
-
Botol/soft flask + sistem filter air atau air matang
-
Headlamp + baterai cadangan
-
P3K dan obat pribadi
-
Pisau lipat kecil, korek api, tisu, perlengkapan toileting
-
HP + power bank + kabel
-
Kantong sampah, dry bag / pack liner untuk melindungi barang penting
Checklist resmi dari komunitas pendaki dan organisasi outdoor di Indonesia biasanya memisahkan antara gear pribadi dan gear kelompok, tapi isi dasarnya tetap mirip seperti di atas.
Cara Menentukan Prioritas Belanja Gear (Budget vs Upgrade)
Tidak semua orang harus langsung membeli gear termahal. Banyak pakar backpacking menekankan bahwa gear mahal bukan syarat utama bisa menikmati alam, dan peralatan pinjaman atau bekas pun bisa cukup untuk awal.
Tips prioritas:
-
Mulai dari Big Three + sepatu
Ini kategori yang paling berpengaruh ke keselamatan dan kenyamanan. -
Beli bertahap, upgrade pelan-pelan
-
Trip pertama mungkin pakai tenda pinjaman, kompor murah, dan sleeping bag yang agak berat.
-
Setelah yakin suka kegiatan ini, baru upgrade ke yang lebih ringan/lebih hangat.
-
-
Sesuaikan dengan rute favorit
-
Sering ke gunung tropis < 3.000 mdpl? Tidak perlu langsung beli gear ekstrem 4-season.
-
Suka jalur panjang dan cepat? Mulai pertimbangkan gear ultralight.
-
-
Perhatikan tiga hal utama saat memilih gear: performa, ketahanan, dan bobot—tiga faktor ini juga disebut dalam panduan pendakian klasik di Indonesia.
Rekomendasi Setup Gear untuk 3 Tipe Backpacker
1) Pemula Budget (Trip 1–2 Malam)
Cocok untuk:
-
Gunung populer dengan jalur jelas
-
Pendaki yang baru pertama kali naik gunung
Fokus:
-
Pinjam tenda dari teman/komunitas
-
Pakai carrier lokal (Eiger/Arei/Avtech) kapasitas 40–50 L
-
Sepatu hiking entry-level (Merrell Moab 3 atau sepatu lokal berkualitas)
-
Kompor bunga + nesting murah
-
Sleeping bag comfort sekitar 10 °C + matras busa
2) Weekend Warrior (Sering Naik Gunung 2–3 Hari)
Cocok untuk:
-
Sudah yakin akan sering mendaki
-
Siap invest sedikit lebih besar
Upgrade fokus:
-
Backpack nyaman seperti Gregory Paragon 58, REI Flash 55, atau Osprey Exos/Eja.
-
Tenda double-wall ringan (Naturehike, REI, atau Big Agnes Copper Spur jika budget memungkinkan).
-
Sleeping bag down menengah seperti Kelty Cosmic Down 20 atau REI Magma 15.
-
Kompor canister (PocketRocket Deluxe, SOTO WindMaster, atau set Jetboil Flash).
-
Filter air sederhana seperti Sawyer Squeeze atau Platypus QuickDraw.
3) Ultralight Curious (Jalan Jauh, Beban Serendah Mungkin)
Cocok untuk:
-
Trek panjang multi-hari
-
Siap belajar teknik minimalis
Fokus:
-
Big Three ultralight (Durston X-Mid, Zpacks Duplex, quilt Enlightened Equipment, backpack Hyperlite/Zpacks/Granite Gear).
-
Stove ultralight seperti BRS 3000T (dengan penggunaan hati-hati).
-
Filter ultralight (Sawyer Squeeze + Cnoc Vecto atau Katadyn BeFree).
-
Pakaian minimal dan multi-fungsi; mengurangi “just in case items”.
Ringkasan Utama Backpacking Gear Essentials 2025
-
Tren outdoor naik terus, dengan lebih dari 175 juta orang ikut aktivitas outdoor tiap tahun dan pasar gear bernilai puluhan miliar dolar.
-
Backpacking gear essentials berpusat pada Big Three (backpack, tenda, sleep system) ditambah sepatu, dapur, filter air, dan safety kit sebagai lapisan pendukung.
-
Untuk backpack, model seperti Gregory Paragon/Maven, REI Flash 55, dan Osprey Atmos/Exos menjadi rujukan utama di 2025.
-
Di kategori tenda dan sleeping bag, Big Agnes Copper Spur, Feathered Friends Swallow/Hummingbird, dan REI Magma 15 banyak diangkat sebagai kombinasi terbaik antara bobot dan performa.
-
Sepatu dan boots seperti Salomon X Ultra 5 Mid GTX, Merrell Moab 3, dan Hoka Anacapa 2 mendominasi rekomendasi sebagai pilihan aman untuk pendaki pemula–menengah.
-
Kompor dan filter air modern (SOTO WindMaster, PocketRocket Deluxe, Sawyer Squeeze, Platypus QuickDraw) makin mempermudah masak dan hidrasi di jalur dengan bobot yang sangat ringan.
-
Pendaki Indonesia bisa mengombinasikan brand global sebagai referensi dan brand lokal (Eiger, Arei, Avtech, Naturehike) sebagai pilihan realistis untuk budget dan ketersediaan.
FAQ Seputar Backpacking Gear Essentials 2025
1. Apa saja perlengkapan backpacking yang benar-benar wajib untuk pemula?
Minimal: carrier 40–50 L, tenda/tarp, sleeping bag + matras, sepatu hiking, pakaian layering, jas hujan, kompor + alat masak, air minum + opsi filter, headlamp, dan P3K. Di luar itu, banyak “nice to have” yang bisa ditambah belakangan seperti trekking pole atau bantal tiup.
2. Lebih baik beli gear mahal langsung atau mulai dari yang murah dulu?
Untuk pemula, mulai dari yang fungsional dulu, bisa pinjam atau beli gear budget. Banyak panduan gear menekankan bahwa peralatan mahal bukan syarat wajib untuk menikmati alam; yang penting aman dan sesuai fungsi. Setelah beberapa trip, baru terasa bagian mana yang paling butuh upgrade.
3. Kapasitas tas carrier berapa liter yang ideal untuk backpacking 2–3 hari?
Banyak penjual dan pakar carrier menyarankan 40–60 L untuk pendakian 2–3 hari, tergantung gaya packing dan jumlah perlengkapan dingin. Untuk pendaki hemat yang gear-nya masih agak besar, 50–60 L sering terasa paling aman.
4. Perlu tidak sih pakai filter air kalau mendaki di Indonesia?
Kalau rute dipenuhi warung dan sumber air jelas di pos, sebagian pendaki masih mengandalkan air matang atau air isi ulang. Namun, untuk jalur panjang atau sumber air alam (sungai, mata air di tengah hutan), filter air portable sangat dianjurkan demi mencegah penyakit pencernaan. Model squeeze seperti Sawyer Squeeze atau Platypus QuickDraw ringan dan mudah dipakai.
5. Apa bedanya gear ultralight dengan gear biasa, dan apakah cocok untuk pemula?
Gear ultralight fokus memangkas bobot setajam mungkin, sering dengan kompromi di sisi durabilitas, ruang, dan kenyamanan. Untuk pemula, lebih baik mulai dengan gear standar yang:
-
Sedikit lebih berat
-
Tapi lebih gampang dipasang
-
Lebih murah dan lebih kuat
Setelah paham kebutuhan pribadi barulah upgrade ke ultralight.
Penutup: Siap Jalan dengan Backpacking Gear yang Tepat?
Setiap pendaki punya cerita pertama yang tidak terlupakan. Ada yang kelelahan karena tas terlalu berat, ada yang kedinginan karena sleeping bag terlalu tipis, ada juga yang tertawa puas di depan tenda hangat sambil menyeruput kopi panas—semata-mata karena mereka lebih siap.
Di 2025, pilihan backpacking gear essentials jauh lebih luas: dari brand global premium sampai produk lokal yang makin serius kualitasnya. Data menunjukkan bahwa jutaan orang di seluruh dunia, termasuk anak muda dan perempuan, makin aktif menjelajahi alam lewat hiking dan backpacking. Ini momentum bagus untuk ikut bergabung—asal tidak nekat berangkat tanpa persiapan.
Kuncinya bukan membeli semua yang “keren”, tapi:
-
Pahami Big Three dan prioritas belanja gear.
-
Sesuaikan perlengkapan dengan medan dan durasi perjalanan.
-
Gunakan referensi review 2025 sebagai panduan, bukan sebagai keharusan.
-
Jangan lupa sisi keamanan dan kenyamanan: sepatu tepat, pakaian layering, P3K, dan sistem air yang aman.
Kalau saat ini baru di tahap riset dan planning, itu sudah langkah besar. Dari sini, bisa mulai menyusun checklist pribadi, membandingkan beberapa opsi gear, dan mungkin mencoba trip pendek untuk mengetes perlengkapan.
Yuk, sekarang giliranmu:
Rancang setup backpacking versimu. Mulai budget, weekend warrior, atau calon ultralighter—dan jadikan setiap gram di tas punya alasan untuk dibawa. Petualangan terbaik sering kali dimulai dari satu keputusan sederhana: memilih gear dengan lebih bijak.
Pesan untuk Pembaca
Sudah pernah punya pengalaman “salah pilih gear” yang bikin kapok atau malah jadi cerita lucu? Atau justru punya rekomendasi peralatan lokal yang menurutmu layak diangkat bareng brand internasional?
Silakan:
-
Tinggalkan komentar: gear apa yang paling ingin kamu upgrade tahun ini?
-
Bagikan artikel ini ke teman yang lagi menyiapkan pendakian pertamanya.
-
Beri saran topik lanjutan—misalnya review tenda khusus tropis, atau perbandingan carrier lokal vs impor.
Pendapat dan pengalamanmu bisa sangat membantu backpacker lain yang baru mulai merencanakan petualangan mereka. Yuk saling menguatkan komunitas pendaki yang aman, ramah lingkungan, dan saling dukung.

Leave a Reply